Sintanauli

petani Simalungun desak kembalikan fungsi hutan

Juni 2, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Bertempat di Kantor Community Based Rehabilitation (CBR) Foundation, Jln. Asahan Km. 5 No. 263, Simalungun, Sabtu (24/5), berlangsung pertemuan antara seluruh perwakilan petani yang berasal dari pinggiran dan kawasan hutan Simalungun. Kehadiran para petani ini adalah karena mereka semakin sadar akan dampak kerusakan hutan yang berakibat terjadinya bencana alam dan pemanasan global. Hal ini tercermin dari rencana ribuan petani yang minggu ini akan berunjuk rasa damai mendesak Pemerintah Kabupaten Simalungun untuk mengembalikan fungsi hutan lindung seperti semula, termasuk yang sudah dan akan dikuasasi/diusahai pengusaha besar asing/dalam negeri dan perorangan.

Mereka duduk bersama aktivis lingkungan, diantaranya Direktur Eksekutif CBR Foundation Ir. Agus Marpaung, Suratman, Ratih. Juga dengan Wakil Ketua dan Pendiri Perhimpunan Petani Pinggiran Kawasan Hutan (P3KH) Ir. Triutomo dan Muhalom Manurung, SH. Dalam pertemuan ini mereka membahas rencana aksi unjuk rasa damai yang akan digelar pekan depan di kantor DPRD Kabupaten Simalungun.

Tuntutan yang nantinya akan mereka sampaikan, yaitu menghutankan kembali seluruh lahan hutan lindung yang telah berubah fungsi jadi lahan perusahaan dan perorangan dengan jenis tanaman sawit. Diantaranya 6.000 hektare lebih lahan Register 18, yang hampir separohnya sudah berubah jadi perkebunan sawit perorangan dan milik sejumlah pengusaha dan pejabat daerah.

Selain itu, termasuk juga Register 1 Gunung Simbolon, Register 2 daerah Hatonduhan, dimana sebagian besar lahan hutan lindung diduga kuat tercaplok kedalam areal perusahaan asing. Belum lagi lahan hutan lindung di Jatimulia, kecamatan Hatonduhan yang dikuasai pengusaha HPHTI yang kini sedang berekspansi mencari lahan tanaman monokultur jenis eucalyptus. Padahal pola monokultur di banyak negara, termasuk Brazilia nyata-nyata ditolak karena berdampak tidak sehatnya ekosistem, kecuali di tempat-tempat tertentu.

Menurut Agus Marpaung dan Muhalom manurung, selain mendesak pemerintah untuk menghutankan kembali seluruh lahan hutan lindung yang sudah rusak dan gundul, dalam aksi petani yang akan didampingi oleh P3KH dan CBR Foundation juga akan mendesak pemerintah untuk menyediakan bibit yang berproduktif untuk meningkatkan ekonomi petani. Utusan petani yang hadir pada saat itu siap melakukan penanaman tanpa harus dibayar. Disepakati bahwa unjuk rasa damai yang akan berlangsung minggu depan akan diikuti sebanyak 500 petani dan secara swadaya akan menanggung kebutuhan yang diperlukan seperti konsumsi, transportasi dan biaya spanduk maupun poster, tanpa dibebankan kepada lembaga CBR Foundation maupun P3KH. Para petani sepakat bahwa unjuk rasa damai ini merupakan kebutuhan mereka.

Ratusan Petani Pinggiran dan Kawasan Hutan Register 1, 2 dan 18 Melakukan Unjuk Rasa Damai di Gedung DPRD Kabupaten Simalungun
Sebanyak lebih kurang 500 petani pinggiran kawasan hutan kabupaten Simalungun yang berasal dari kawasan Register 1, 2 dan 18 yang tergabung di dalam Perhimpunan Petani Pinggiran Kawasan Hutan bersama dengan CBR Foundation pada hari ini 2 Juni 2008 melakukan aksi damai di Kantor DPRD Simalungun. Para petani ini berasal dari sejumlah desa/kecamatan, antara lain Pamottangan, Jatimulia, Pargampualan, Bintang Mariah, Kampung Baru, Dabuan Cincin, dan desa lainnya yang ada di sekitar Register 18. Mereka hadir dengan menggunakan 5 unit Truck berbadan besar, angkutan pedesaan, juga dengan sepeda motor.

Dalam aksi damai yang mereka lakukan secara swadaya murni ini merupakan tindak lanjut dari rencana yang telah disusun sebelumnya. Puluhan spanduk mereka pampangkan di depan gedung wakil rakyat itu, yang initinya mengecam kebijakan pemerintah soal pemanfaatan dan penyelamatan hutan yang tidak pernah berpihak kepada petani, melainkan kepada kapitalis penganut paham neoliberalisme.

Para petani secara berganti-ganti melakukan orasi untuk menyampaikan aspirasi mereka kepada wakil rakyat yang kala itu diterima oleh Wakil Ketua DPRD Janter Sirait, SE didampingi ketua dan sekretaris Komisi I Ir. Iskandar Sinaga, Ir. Makmur Damanik, Asmudi Saragih, dan Tapa Siboro.

“Petani jangan dimiskinkan, kami tak mau miskin. Tanpa petani negara akan runtuh. Tanpa rakyat negara tidak ada. Beginilah petani, tidak pernah diperhatikan pemerintah.” Teriak Darmanan Sitohang (55) dari Pargampualan. Teriakan keras juga dilontarkan M boru Manurung (53) Petani yang bermukim di sekitar kawasan hutan Register 18. Dia menyampaikan keperihatinan petani yang selama ini hanya jadi buruh kebun sawit milik pengusaha dan oknum pejabat. Padahal menurutnya dan diamini oleh petani yang lain bahwa lahan perkebunan sawit milik pengusaha dan penjabat tersebut adalah hutan negara, tetapi penegak hukum dan penguasa tidak berani menangkap penggarap ribuan hektar hutan itu.

Orator dari petani lainnya yang bemarga Sinaga juga mengatakan bahwa “kawasan hutan register 18 yang telah beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit harus segera dihutankan kembali dengan melibatkan petani”. Sinaga juga menjelaskan bahwa kepemilikan perkebunan sawit oleh para pengusaha di kawasan hutan register 18 telah mencapai 100-900 hektare/orang. Sedangkan banyak petani tidak memiliki lahan dan menjadi buruh di kebun-kebun tersebut.

Duarman Sinaga mewakili seluruh petani yang melakukan aksi damai membacakan pernyataan sikap mereka. Dalam pernyataan itu petani menegaskan bahwa para petani yang selama ini telah bermukim dan mengelola lahan hutan sebenarnya telah membantu pemerintah memperbaiki kawasan hutan. Para petani secara swadaya telah melakukan penghijauan dengan menanam kemiri, kopi, coklat, karet, cengkeh, petai, dan durian. Pilihan petani dengan jenis tanaman tersebut selain berfungsi untuk penghijauan juga berfungsi sebagai penopang sumber pendapatan petani.

“Namun upaya yang kami lakukan sering tidak mendapat dukungan dari Dinas Kehutanan Simalungun. Operasi Hutan Lestari (OHL) II yang dilakukan Dinas Kehutanan dengan Polres Simalungun pada 24 Agustus 2006 merupakan sikap arogan, mengakibatkan 56 petani ditangkap dan dipenjarakan karena mengelola kawasan hutan tetapi para pembalak hutan sampai saat ini masih tetap berlangsung dan tidak tersentuh oleh hukum”. Ujar Duarman Sinaga.

Selanjutnya upaya Dinas Kehutanan Simalungun yang saat ini melakukan operasi Hutan Tanaman Rakyat (HTR) tidak melakukan sosislisasi dengan baik dan tidak melibatkan keikutsertaan petani. Jenis bibit yang ditanam seperti pinus dan meranti justru tidak akan menjadi sumber pendapatan bagi petani yang ada di kawasan hutan justru tetap menciptakan penebangan kayu pada tahun-tahun mendatang.

Salah satu perkampungan kawasan hutan Register 2 adalah Pamottangan yang dihuni lebih kurang 60 Kepala Keluarga sekarang ini sangat menderita sejak jembatan tidak ada lagi. “untuk itu kami memohonkan agar pemerintah segera membangun jembatan untuk dapat mengangkut hasil bumi. Dan mempermudah bagi anak-anak untuk ke sekolah. Karena dengan tidak adanya jembatan mereka harus menyeberangi sungai.

Setelah mendengar keluhan dan orasi para petani, Wakil Ketua DPRD Janter Sirait mengatakan bahwa DPRD dan Eksekutif sedang mengupayakan agar kelestarian hutan tetap diberikan kepada masyarakat seperti apa yang telah dilakukan petani di sekitar Gunung Kidul. Untuk itu demi mengkonkritkan aspirasi petani, DPRD Simalungun akan mengundang beberapa perwakilan petani yang berkumim di Register 1, 2 dan 18 pada Senin (9/6) ke Gedung Dewan. Dia menjanjikan akan menghadirkan semua instansi terkait dengan hutan.

Tuntutan Petani dalam Aksi Damai untuk ditindaklanjuti :

  1. Para Petani yang selama ini telah melestarikan kawasan hutan agar dilindungi oleh Pemerintah.
  2. Dalam pelestarian kawasan hutan harus mengikutsertakan petani dan petani juga harus bisa memberikan masukan jenis tanaman yang menguntungkan petani dan melestarikan lingkungan.
  3. Kawasan hutan Register 18 yang dikuasai oleh Pengusaha dan Pejabat harus segera dihutankan kembali dengan melibatkan seluruh petani yang ada di kawasan hutan Register 18. fan petani siap untuk menanami kebun pengusaha dan pejabat tanpa dibayar.
  4. Kawasan Register 18 yang telah dialih fungsikan oleh Pengusaha dan Pejabat harus ditanami dengan tanaman yang bisa memberikan sumber kehidupan petani.
  5. Agar Pemerintah Kabupaten Simalungun mengembalikan hak-hak para Petani Jatimulia.
  6. Agar Pemerintah membangun kembali jembatan yang menghubungkan Pamottangan.
  7. Hentikan illegal logging di daerah aliran sungai dan kawasan hutan

→ Tinggalkan KomentarKategori: We & friends

Anggota ke 20 endemis flu burung, Pematangsiantar

Mei 14, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sebuah email dari teman di UNICEF Jakarta memberikan informasi bahwa : Pematang Siantar sejak awal April 2008, sudah resmi masuk menjadi “anggota ke 20″ daerah endemis Avian Influenza pada unggas di Sumatera Utara. Kejadiannya pada peternakan skala “agak besar, lebih dari 4.000 ekor ayam buras”

Kenyataannya, kita sadar bahwa virusnya jelas-jelas sudah ada di sekitar kita dan kita “pura-pura merasa masih aman”. Kalau demikian sangat diperlukan anggota masyarakat yang sadar bahwa ancaman AI itu memang real, bukan “ceritera rekayasa”.

→ Tinggalkan KomentarKategori: we learn

Workshop mc-ICP, 22 april 2008.

April 22, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hari ini tanggal 22 Maret 2008 : Suatu pertemuan kecil yang dalam bahasa kerennya disebut ‘workshop’ dilakukan di kantor LSM Sintanauli bersama dengan kelompok mc-ICP yang menjadi dampingan, Sedang dalam bahasa lokalnya ini disebut mereka sebagai ‘par-rapotan’.

Pada kegiatan inilah dibicarakan dan dinilai seluruh hasil yang berdampak positip dan negatip tentang program mc-ICP yang telah selesai mereka kerjakan, dan selanjutnya menyusun perencanaan kedepan.

Penilaian positip (versi petani) :

  • dengan dukungan pendanaan dari porgram mc-ICP, hasil panenan memberikan hasil yang lebih menggembirakan dibanding masa yang lalu, karena tidak ada lagi halangan pembiayaan untuk pengolahan tanah, untuk pembibitan, untuk pemupukan dan pemeliharaan (pestisida dan keongmas).
  • para petani terbebas dari jeratan rentenir dengan bunga 8-10 persen perbulan dan bebas menjual pada hasil pertanian.

Penilaian negatip (versi petani) :

  • Relatif tidak ada, namun ada juga yang menyampaikan bahwa ada teman mereka yang sesama petani belum tercakup dalam program ini, namun mereka menyadari juga masih ’sedemikian’ kapasitas dari pilot proyek ini.

Penilaian dari fasilitator :

  • Tiada hambatan dalam pelaksanaan kegiatan, termasuk dalam penyampaian kewajiban berupa simpanan wajib dan pengembalian kredit.

Penilaian dari LSM :

  • Program mc-ICP ini adalah sebuah ‘pilot proyek’ yang telah ditetapkan indikator-indikator pencapaiannya, antara lain : pembelajaran bagi kelompok petani untuk berorganisasi dan ketepatan waktu/kelancaran pembayaran simpanan wajib dan pengembalian kredit. (succesfully).

Pembahasan dan diskusi yang dibangun sesama mereka :

  1. Keberlanjutan program Micro credit ICP.
  2. Pematangan peraturan internal mereka sendiri yang bernafaskan kearifan lokal.
  3. Inovasi baru.

Dilanjutkan dengan diskusi dengan pihak LSM-Sintanauli untuk membangun keputusan bersama :

  1. Program mc-ICP akan dilanjutkan dengan program mc-ICP tahap kedua dan direncanakan akan dimulai dipertengahan bulan April 2008 .
  2. Tidak ada perobahan yang mendasar dari penataan program mc-ICP.
  3. Jumlah cakupan keanggotaan dinaikan 50 %
  4. Penentuan penambahan anggota, adalah hak mutlak dari fasilitator.
  5. (tambahan) pengaturan tentang distribusi dari benih pada yang diperoleh (berupa hibah) dari pihak ketiga.

Demikianlah hasil ‘par-rapotan’ kelompok kecil ini,…………. Setelah selesai makan bersama, pertemuan ini ditutup dengan kesimpulan Horas, horas dan horas.

→ Tinggalkan KomentarKategori: We work

peluncuran dana program micro credit-ICP-II tahap pertama April 2008.

April 17, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sesuai dengan rencana yang ditetapkan dalam workshop mc-ICP 2008 tanggal 22 Maret 2008, dimana dipastikan akan dilanjutkan program mc-ICP ke-II akan direalisasikan.

Pada hari ini tanggal 17 April diluncurkan dana program mc-ICP ke-II, tahap pertama untuk masa pengolahan tanah kepada 48 mc-ICP dikantor LSM-Sintanauli Pematangsiantar yang melibatkan drg.Subur, H.Ahmad Rajab Ak, Drs C Turnip dan 2 fasilitator petani (R.br Situmorang dan A.Aritonang).

Demikianlah kegiatan (kecil-kecilan) pada hari ini.

→ Tinggalkan KomentarKategori: We work

gilpad online,……. keren bah!!

Maret 26, 2008 · & Komentar

Ini di Pematangsiantar, terdapat mobil gilingan padi dan online pula. Semuanya ini adalah ide dan reka-karya Pak Panjaitan peduduk jalan D.I.Panjaitan Pematangsiantar.
Mereka menyebutnya mobil gilpad.

Anda punya padi, ingin menggiling padinya maka tinggal telpon saja Usaha Dagang PARISMA yang akan diterima oleh Pak Panjaitan ataupun karyawannya. Semasih didalam areal kerja dari mobil gilpad, maka panggilan anda akan dilayani (mobil gilpad tersedia 5 unit). Jasa gilingan padi telah ditetapkan, dari setiap 10 liter beras hasil gilingan maka 1 liter sebagai jasa layanan.

Praktislah,……… petani tidak perlu lagi bersusah payah mengangkat padinya ke pabrik/kilang padi yang jaraknya cukup jauh dan jelas memerlukan biaya pengangkutan.

-

Desain mobil gilpad :

  • Kerangka minibus bekas tanpa mesin (chasis, sistem transmisi).
  • Mesin diesel 22 hp.
  • Mesin penggiling padi
  • Sistem fulley dan belt (pengalihan tenaga dari mesin diesel sebagai penggerak mobil ataupun sebagai penggerak mesin gilingan padi).

-

.

Inovasi tepat guna, teknologi madya yang diminati para petani di Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun.
Bukan cuma “orang pakai dasi” bisa berceloteh tentang “online”, kami pun bisa dan inilah pembuktiannya, kata pak Panjaitan.

→ 2 CommentsKategori: We & friends

Call 118,……Pematangsiantar rescue

Maret 22, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kalaulah terjadi suatu hal yang tidak terduga dilingkungan atau dirumah kita, misalnya salah seorang dari teman, sanak keluarga karena sesuatu hal (kecelakaan, serangan penyakit) membutuhkan pertolongan dan perlu dengan segera mendapat pelayan ambulan untuk dibawa ke rumah sakit,….. Siapakah yang harus dihubungi???? Sementara jawabnya,……tidak tahu.

Pertanyaan sangat sederhana itulah yang menjadi latar belakang pemikiran dari Palang Merah Indonesia Siantar-Simalungun dan motivasi untuk memikirkan pengembangan kapasitas pelayanan ambulans.

Barangkali,…….
Pengalaman-pengalaman dari PMI sendiri dalam meng-evakuasi korban kegawat-daruratan pada peristiwa tsunami di Aceh 2006, betapa sangat kurangnya sarana dan prasarana menghadapi kegawat-daruratan yang terjadi pada saat itu dan semuannya bertindak tanpa dasar manajemen kegawat daruratan yang baku.

Bahkan pengalaman dan kejadian ditingkat lokal (kota Pematangsiantar), bila terjadi suatu peristiwa kecelakaan lalu lintas, sikorban tergeletak demikian saja. semua orang disekitar hanya mengangkat bahu dan hanya penonton belaka. “siapakah yang harus dihubungi, untuk mendapatkan pelayanan P3K dan membawanya ke rumah sakit.

I have adream,………
“Kota Pematangsiantar ini mempunyai unit pelayanan ambulans semacam 911 yang sering kita tonton dalam serial tv”, kata Marulam Simarmata. “Inilah langkah kecil untuk mewujudkan Safe community” demikian ditambahkan Simarmata untuk menjelaskan misi dan visinya.

Apakah semudah itu,………. Persoalan yang paling mendasar adalah ‘apakah para stake/share-holder juga mempunyai ‘dream’ yang serupa dengan ‘dream’ Simarmata. Kalau dream-nya sama apakah menimbulkan ‘action’ yang sama. Proses masih memerlukan berbagai pedekatan dan negoisasi.

Darimana harus dimulai,………..

PMI Siantar-Simalungun dengan donasi terbatas dari Redcross Germany and Hongkong, mengawali dengan proses Capacity-Building internal, yaitu : 1) pembenahan kelembagaan unit rescue. 2) pembenahan sistem managemen pelayanan dan administrasi. 3) pembenahan individu antara lain rekrutmen dan training pelayanan rescue tingkat dasar. Untuk lebih berdaya guna, pihak donasi juga memberikan fasilitas hard-ware (bangunan dan ambulans) dan soft-ware (apparatus gawat darurat dasar).

Tentu saja dalam kebijakan pihak donasi, bahwa pengembangan kapasitas ini hanya internal PMI saja. Sedang pengembangan kapasitas pihak stake/share holder itu menjadi bagian dari institusi yang bersangkutan.

Perjalanan ini semakin melelahkan,…………. kata Ebiet.G.
Syair ini juga disenandungkan oleh Marulam Simarmata, dan terus akan dinyanyikan karena memang syairnya pun panjang.

Proses capacity building internal sudah selesai, Langkah kecil ini harus dimulai,….. walaupun dengan jangkauan terbatas hanya ditingkat kota Pematangsiantar, karena respons-time untuk daerah lain belum dapat ditanggulangi. PMI Siantar-Simalungun akan mempublikasikan pelayanan ambulans 118 dengan segera.

Call 118

posting terkait :

→ Tinggalkan KomentarKategori: We & friends

Program mc-ICP selesai,……dilanjutkan April 2008.

Maret 15, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pada hari ini tanggal 15 Maret 2008, dikantor LSM Sintanauli Pematangsiantar ; dilaksanakan pertemuan penyelesaian keuangan dari Proyek micro-credit Indigenous Cooperation Peasant yang dihadiri oleh drg.Subur, Ahmad Rajab, C Turnip dan 2 fasilitator petani (R.br Situmorang dan A.Aritonang).

Pada hari ini proyek mc-ICP yang pertama dinyatakan selesai, seluruh indikator kinerja yang telah ditetapkan sejak awal perencanaan telah tercapai, antara lain :

  1. Seluruh petani yang termasuk dalam mc-ICP telah berhasil reproduksi kembali dengan hasil yang memuaskan.
  2. Seluruh pinjaman micro-kredit telah dikembalikan.
  3. Seluruh kewajiban simpanan telah dipenuhi.
  4. Perhitungan keuangan, sesuai dengan perencanaan.

Fasilitator petani telah mengembalikan seluruh dana pinjaman kepada bendahara LSM Sintanauli (H.A.Rajab Siregar Ak) dengan disaksikan oleh drg.Subur (dir.eks) untuk kemudian dibukukan dalam buku kas LSM-Sintanauli.

Dana hasil usaha dibagikan menurut ketentuan yang telah ditetapkan sejak awal dengan komposisi sebagai berikut :

  • sepertiga bagian dimasukkan sebagai tambahan modal untuk kegiatan lebih lanjut.
  • sepertiga bagian sebagai jasa dana donatur.
  • sepertiga bagian untuk administrasi dan fasilitator.

Setelah seluruh proses administrasi dan pembukuan proyek mc-ICP ini ditutup oleh dir.eksekutif dan bendahara

Dalam pertemuan ini, direncanakan tahapan lanjutan (sustainability):

  1. proyek mc-ICP akan dilanjutkan dan dimulai pada bulan April yad.
  2. Perluasan cakupan anggota menjadi 50 keluarga petani.
  3. Penambahan modal dari pihak donatur menjadi Rp 70 juta.
  4. Benih padi sebanyak 400 kg yang telah diterima dari pihak ketiga (sebagai dukungan), akan dipikirkan kebijakan penyalurannya, pada pertemuan dengan seluruh anggota mc-ICP.
Demikianlah kegiatan pada hari ini.

→ Tinggalkan KomentarKategori: We work

14 % saja,……..cakupan PDAM Simalungun.

Maret 13, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Dalam fokus diskusi group (forum organisasi masyarakat dengan pihak PDAM Tirta Lihou) yang difasilitasi oleh LGSP-USAID pada tgl 13-03-2008 di Siantar Hotel, beberapa topik permasalahan dan kemungkinan problem solving dibicarakan dengan serius.
Pada umumnya bila kita diskusi tentang suatu perusahaan, tentu pembahasan yang mengemuka adalah persoalan marketing, manajemen, kualitas, dan efisiensi.
Lain halnya bila yang dibicarakan itu Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Lihou Kabupaten Simalungun, pembahasan yang umum tadi menjadi turun kedalam ranking paling belakang, yang mengemuka adalah intervensi politik dan adu kepentingan.

Secara umum, permasalahan PDAM adalah sebagai berikut:

  1. Cakupan Pelayanan rendah.
  2. Tingkat kehilangan air tinggi.
  3. Tingkat penagihan piutang rendah.
  4. Meningkatnya komponen biaya produksi.
  5. Tarif yang belum menutupi biaya produksi.
  6. Hutang yang sangat besar.
  7. Inefisiensi tenaga kerja.
  8. Kebijakan investasi kurang terarah.
  9. Campur tangan Pemda & DPRD terlalu besar dalam pengambilan kebijakan.

Ir. Benny Purba mengungkapkan khususnya di Kabupaten Simalungun, permasalahan itu adalah :

  1. Permasahan khusus , dijelaskan oleh , bahwa hanya 14 % saja masyarakat Kabupaten Simalungun yang menikmati pelayanan air minum dari PDAM Lihou, dengan demikian pendekatan kuantitaf tanpa mengabaikan kualitas menjadi salah satu strategi utama.
  2. Penyehatan manajemen dan keuangan PDAM, seperti membuatkan balance sheet antara pengeluaran dan pemasukan dan remunerasi gaji karyawan PDAM dari dibawah menjadi diatas UMR.
  3. Perlunya usaha-usaha terpadu dengan Pemkab (Bappeda, PU) dan DPRD dan Pemerintah Pusat.
  4. Perlunya usaha-usaha terpadu dengan masyarakat Dengan menggabungkan seluruh potensi tersebut diatas, diharapkan penyehatan PDAM dapat lebih cepat terealisir.

→ Tinggalkan KomentarKategori: We & friends

Local News ke proyek mikro-credit ICP

Maret 4, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hari ini kita dikunjungi oleh Pak Sinaga dari harian Local News untuk wawancara dan akan diterbitkan dalam tabloid mereka, sekaligus menjadi kegiatan evaluasi dari LSM Sintanauli dihamparan pertanian yang lain.

Yang ditanam kini sudah berbuah dan produksi pada saat ini tidak mengalami hambatan sama sekali,………….. demikian kata Pak C.J.Turnip selaku pengurus dari mikro-credit Indigenous Cooperation Peasant.

Keringat kami dalam menanam padi, mulai dari pengolahan, pembenihan, penyemaian, pemupukan, penyiangan dan akhirnya panen, sangat menggembirakan dan terlepas dari jerat tengkulak yang gentayangan disekitar kami, demikian kata Ibu R.Situmorang dan Pak Aritonang.

Langkah kedepan :

  1. Melanjutkan kegiatan ini pada tahap berikutnya, dengan cakupan yang lebih meningkat baik jumlah keanggotaan (45 anggota) dengan luas lahan lebih dari 40 ha.
  2. Pengembangan kapasitas mikro-credit ICP.
  3. Penambahan sumber-sumber daya (penyediaan benih dan pupuk).

--
-

→ Tinggalkan KomentarKategori: We work

Kedatangan tamu, evaluasi dari USAID dan Bappenas

Februari 28, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pada hari ini kita (Forum Organisasi Masyarakat Simalungun) kedatangan tamu dadakan tanpa suatu pemberitahuan, tim evaluasi dari USAID Jakarta dan Bappenas. Topik penilaian adalah tentang :

  1. Sejauh mana capaian capacity building OMS di Kabupaten Simalungun
  2. Peranan partisipatif dari OMS dalam advokasi akuntabilitas pelayanan publik, khususnya pelayanan air minum.
  3. Hal-hal lain yang timbul dalam diskusi ini.

Tamu itu antara lain :

  • Lufthi Ashari, Project Development Specialist DDG.
  • Widisantoso, LGSP-Jakarta.
  • Robert Simanjuntak, Bappenas Jakarta (bidang sosial dan politik)
  • S.Simanihuruk, Bappeda Kabupaten Simalungun.

→ Tinggalkan KomentarKategori: We & friends