Orang pinggiran,…..cari sesuap nasi.

Menambah pendapatan, selain dari hasil “pabola pinang” (sistem bagi hasil dari lahan yang disewa) pertanian padi, demikian kata Aritonang dengan sederhana (anggota micro-credit ICP-Sintanauli).
Dipinggiran jalan D.I.Panjaitan Pematangsiantar, duduk menunggu pembeli sambil berkhayal suatu saat dirinya akan menjadi konglomerat atau konglomelarat, Aritonang menjual pakan ternak babi berupa ampas ubi yang diperoleh dari pabrik tapioka Bumi-sari Pematangsiantar atau Tebing Tinggi, dibeli dengan harga Rp 17.500.- perzak selanjutnya dijual dengan harga Rp 20.000.-perzak.
Penjualannya juga mengenal masa pasang surut omzet penjualan, bila produk dari pabrik berkurang maka permintaan menaik dan bisa terjual sampai 50-60 zak perhari.

Sedang bila produk pabrik berlimpah maka permintaan menjadi berkurang bahkan hanya 15-20 zak perhari.

Dimana letak kaidah ekonomi, sedang ternak tidak pernah berhenti makan ?
Kurang tahu aku Lae, Pokoknya Taradigading-dang-dong ma.
Lumayanlah, daripada,……………. kata Aritonang.
Iklan

Pasokan pupuk bersubsidi (laporan)

Pada saat ini, kita belum membutuhkan pupuk karena sekarang ini dalam suasana menjelang panen, namunpun demikian kita tetap memerlukan pupuk untuk masa yang akan datang, demikian dilaporkan oleh fasilitator ICP-Sintanauli beberapa hari yang lalu.

Pada hari ini, kita telah menyelesaikan seluruh persyaratan administratif ke Kantor Kelurahan Aek Nauli Kecamatan Siantar Selatan, Dinas Pertanian kota Pematangsiantar dan distributor UD.Sinurat untuk memperoleh pupuk bersubsidi, untuk dapat memastikan pasokan pupuk yang dibutuhkan oleh 65 anggota kelompok tani yang tergabung dalam ICP-Sintanuli.

Nol rupee

Fifth Pillar India, suatu LSM yang berafliasi menentang korupsi telah mencetak lebih dari 200,000 lembar mata uang dengan nilai “zero-denomination” dengan gambar Mahatma Gandhi menghiasi profil uang tersebut. Apasih tujuannya? “Uang ini akan diberikan kepada orang-orang yang menuntut suap. Kampanye anti suap”.

cerita lebih lanjut : klick

Laporan fasilitator mc-ICP ke-II.

Inilah yang menjadi suatu titik kelemahan yang perlu mendapatkan pembenahan yang lebih lanjut. Jelas disadari tetapi harus dimaklumi bahwa dua fasilitator mc-ICP yang ditetapkan berdasarkan pola kearifan lokal adalah ‘petani medok’ yang kurang memahami ‘pentingnya’ suatu agenda harian yang menjadi bagian dari pencatatan dan pelaporan.

Laporan dari ibu R boru Situmorang :
Penyaluran kredit tahap pertama dan kedua, semua sesuai dengan tatatertib yang telah. Hanya sedikit gejolak yang terjadi adalah ‘persoalan pupuk bersubsidi’ yang hilang dari pasaran, sehingga ada sebagian dari yang menggunakan pupuk dengan harga pasar. Oleh distributor pupuk bersubsidi dilingkungan mereka dianjurkan untuk membentuk kelompok tani untuk nantinya bisa lancar memperoleh pupuk bersubsidi.

Laporan dari Amri Aritonang :
Sama seperti laporan yang diatas, hanya ada kejadian insidentil diawal bulan Juli yang lalu menimpa persawahan dari seorang petani yang karena keteledorannya, yang seharusnya menyemprotkan insectiside terganti dengan ‘basmilang’, lahan yang mengalami insidensi ini seluas 10 rante. Tindakan pertolongan segera yang dilakukan adalah dengan segera menyemprot kembali dengan air sebanyak-banyaknya (menggunakan mesin semprotan air) dan memperlancar pengairan. Pada hari ke-7 terlihatlah akibatnya, hampir separuh dari padi tadi mati dengan kondisi akarnya yang tidak berkembang.

Wacana yang perlu dibicarakan oleh mereka, setelah selesai panenan padi nantinya pada bulan akhir Agustus, apakan lahan pertanian padi ini bisa langsung ditanami dengan jagung. Ini adalah sebuah wacana untuk mereka pelajari dan sepakati, dan akan dimintakan suatu penyuluhan pertanian dari Dinas Pertanian ataupun dari Fakultas Pertanian Universitas Simalungun.

ironi,…… hilangnya jembatan partisipatif

Hanya sejumlah Rp 10.000 itulah yang kami terima dulunya dari Puskesmas sebagai pengganti transport kami dalam kapasitas sebagai kader posyandu dalam satu bulan, kalaupun dana yang diterima itu kami gunakan untuk beli beras hanya bisa membeli satu ‘tumbak’ saja kok. Ini sudah berlangsung sejak tahun 2002, tetapi sejak Januari tahun ini kami tidak menerima ‘pengganti transport’ tersebut lagi.
Kenapa demikian,….. Kami tidak tahu kata Mak Riris br Samosir salah seorang kader posyandu di Pematangsiantar.

Yah,…. begitu kami tanyakan ke Puskesmas maka jawaban ‘tidak jelas’ kabarnya ‘pengganti transport’ itu tidak lagi ada.
Yah kami mau bagaimana lagi kata ibu Tobing dengan pasrah. Okelah,……. kami hanya orang kecil, ibu-ibu di posyandu,….. hanya bisa pasrah, demikian tambah ibu Tobing.

Posyandu adalah fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat yang didirikan di desa-desa kecil yang tidak terjangkau oleh rumah sakit atau klinik. Posyandu dimulai terutama untuk melayani balita (imunisasi, timbang berat badan) dan orang lanjut usia (posyandu lansia), dan lahir melalui suatu Surat Keputusan Bersama antara Menteri Dalam Negeri RI, Menteri Kesehatan RI, Kepala BKKBN dan Ketua Tim Penggerak PKK dan dicanangkan pada sekitar tahun 1986. Legitimasi keberadaan Posyandu ini diperkuat kembali melalui Surat edaran Mendagri 193-2001 Pedoman umum revitalisasi posyandu yang antara lain meminta diaktifkannya kembali Kelompok Kerja Operasional Posyandu di semua tingkatan administrasi pemerintahan. Penerbitan Surat Edaran ini dilatarbelakangi oleh perubahan lingkungan strategis yang terjadi demikian cepat berbarengan dengan krisis moneter yang berkepanjangan. Lebih lanjut dipertegas kembali melalui Permendagri 54-2007, Pedoman pembentukan pokja pembinaan posyandu dan belakangan ini kembali ditegaskan oleh Presiden SBY pada kesempatan Hari Keluarga Nasional ke-XV di Jambi pada tanggal 29 Juni 2008 yang lalu.

Pihak Dinas Kesehatan menyatakan bahwa ‘pengganti transport’ tidak lagi diajukan dalam APBD 2008 dengan alasan bahwa ini dikategorikan sebagai bantuan, hanya,……… dijanjikan nantinya akan diusulkan didalam SKPD Dinas Sosial dalam mata anggaran bantuan.

Nah,……. kembali kita mengingat Tupoksi dari Puskesmas yang pada garis besarnya adalah : pelayanan kesehatan masyarakat, pengembangan kesehatan masyarakat dan Pembinaan Kesehatan Masyarakat. Salah satu item Pembinaan masyarakat adalah pembinaan dan pemberdayaan Puskesmas. Puskesmas tidak akan mampu menjelajahi seluruh pelosok-pelosok daerah kerjanya sehingga dibutuhkan bantuan dari masyarakat untuk berpartisipasi untuk mengcover dilevel grass-root. Dengan demikian jelaslah sudah posisi siapa yang ‘dibantu dan membantu’. Sedemikian besarnya peranan dari posyandu ini jelas tercantum dalam Standar Pelayanan Minimum Kesehatan Kota dan menjadi suatu sub-indikator dari Indikator Indonesia Sehat.

Dengan demikian jelaslah sudah kinerja dari posyandu adalah bagian integral operasional Puskesmas dan jelas menjadi bagian dari SPM dan Indikator kinerja dari Dinas Kesehatan,….. Kenapa harus dijanjikan, nanti akan diusulkan dalam P-APBD dan didalam SKPD Dinas Sosial dalam mata anggaran bantuan ?

Demikian pasrahnya para kader posyandu,….. mengundang beragam pertanyaan :

  • PHK Dinkes Kota (puskesmas) dengan Posyandunya.
  • Bagaimana dengan Millenium Developmen Goals Pematangsiantar.
  • Hilangnya jembatan partisipatif ?

Bunuh diri.

Setelah selesai membicarakan hal-hal yang dianggap penting didalam suatu pertemuan informal para petani dikedai tuak Pak Sarkum (Saragih Kumis) dan untuk meredakan panasnya pembicaraan yang baru lalu, perlulah diguyur dengan tuak dan disuguhi tayangan sebuah clips video yang menggelitik (diperoleh dari internet), yang selanjutnya membuat perdebatan menghangat kembali, tetapi dengan suasana tawa.

Kalau beli bir aku tak mampulah.
Mainkan sekali lagi,….. Hua ha ha ha, ketawa Amani Saut meledak. Akupun sering merasa frustasi dan terkadang putus asa dengan kehidupan ini, tetapi begitu senja telah tiba dan kuingat tuaknya Pak Sarkum ini sedikit rasanya terobati,… Tetapi tunggu dulu,….. kalo sampai pingin bunuh diri,….. jangan dulu bah!
Jadi apakah maksudmu bahwa tuak Pak Sarkum ini, dapat mencegah bunuh diri? timpal Sitanggang mengompori pembicaraan. Pembicaraan akhirnya terarah kepada cerita Amani Saut mau bunuh diri dan ditentang habis-habis olehnya.
Tampan dan kerennya laki-laki divideo itu, kok mau dia bunuh diri.
Bego lu, kata Naek. itukan iklan.
Akhirnya ditimpali oleh Ompu Tommy bahwa bunuh diri itu dilarang oleh agama,………. Palias ma i.
Sekeping cuplikan clips video ini, sudah bisa membuat perdebatan dan kami ketawa.

petani hadapi tantangan iklim demi menambah pangan

Sebuah artikel yang diperoleh dari erabaru.or.id, menjadi pembahasan dikelompok kami dan pembelajaran tentang situasi global dan nasional menyangkut situasi pangan, hal yang perlu juga kami ketahui untuk menambah wawasan pemikiran bagi kami dan bagi kelompok dampingan kami petani. Walapun artikel ini hanya dibahas ditempat informal ‘dikedai tuak’,……. lumayanlah untuk sekedar tahu. Adapan isi berita tersebut adalah sebagai berikut :

Para ilmuwan mengatakan, jika para petani berpikir bahwa mereka mengalami masa sulit dalam mencukupi produksi beras, gandum dan tanaman pangan lain, pemanasan global justru akan menunjukkan dunia tentang tantangan baru dalam memproduksi lebih banyak makanan.

Di dunia yang memanas, dilanda oleh banjir dan kemarau yang ekstrim, para petani sudah seharusnya mengubah manajemen pengolahan hasil bumi, dengan menanam variasi tanaman yang lebih tahan dan disiapkan untuk menghadapi perubahan konstan pada proyek mereka, lanjut para ilmuwan.

“Pasti akan ada lebih banyak tantangan di masa mendatang. Salah satu tantangan adalah temperatur, tantangan yang lainnya adalah air,” kata Lisa Ainsworth, seorang ahli biologi molekular Departemen Pertanian Amerika Serikat.
Naiknya harga padi di beberapa bulan terakhir ini telah mengejutkan pemerintah yang dahulu mampu menyediakan beras, gandum, kedelai dan jagung dengan harga yang layak.
Namun naiknya permintaan dan kemungkinan perubahan iklim yang lebih besar dan lebih fluktuatifnya hasil panen dapat membuat harga menjadi lebih tidak pasti.
Estimasi saat ini menunjukkan bahwa permintaan untuk gandum akan melonjak lebih dari 50 persen di tahun 2050 ketika populasi dunia naik dari 6.6 milyar menjadi sekitar 9 milyar.

Dunia telah memanas sekitar 0.7 derajat Celsius diatas rata-rata sejak tahun 1800-an dan penelitian menunjukkan temperatur yang lebih tinggi yang dapat mengurangi hasil panen, terutama di daerah tropis dimana banyak ditanam beras.
“Di Timur Laut Tiongkok, yang bertemperatur rendah, dengan musim tanam yang singkat dan kekurangan produksi air, maka kenaikan temperatur di masa mendatang mungkin akan berdampak lebih menguntungkan di sana,” kata Ainsworth. “Namun, di negara-negara bagian selatan yang temperaturnya relatif lebih tinggi, kemungkinan akan menyebabkan kegagalan hasil panen disana.”

Polusi merupakan ancaman lain. Ozon (gas beracun yang terdiri dari tiga molekul oksigen, bila berada dekat permukaan tanah akan berbahaya, bila terhisap dan dapat merusak paru-paru. Sebaliknya, lapisan ozon di atmosfer melindungi kehidupan di bumi karena ia melin-dunginya dari radiasi sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan kanker), yang terbentuk di permukaan tanah oleh sinar matahari yang saling berinteraksi dengan polusi dari bahan bakar fosil (seperti bensin), dapat mengurangi produktivitas tanaman. Lebih tinggi lapisan ozon, semakin buruk kerusakannya.

Di belahan bumi utara, ozon adalah masalah yang berkembang pesat dan diperkirakan membuat petani merugi milyaran dolar karena gagal panen.
“Di daerah penghasil beras yang utama, seperti India dan Tiongkok, konsentrasi ozon di permukaan tanah bahkan saat ini sangat tinggi dan pasti melebihi ambang kerusakan. Ozon telah mengurangi potensi hasil panen di banyak area,”lanjut Ainsworth.
Beras tumbuh di lebih dari 100 negara. Lebih dari separuh populasi dunia bersandar padanya sebagai sumber makanan utama mereka.

Tekanan kenaikan suhu
Laporan panel utama PBB tentang iklim tahun lalu mengatakan di daerah khatulistiwa, bahkan kenaikan temperatur yang aman antara 1 dan 2 derajat Celsius tetap dapat mengurangi hasil panen.
Di daerah lintang tengah hingga yang lebih tinggi (posisi lintang merupakan penghitungan sudut dari 0o di khatulistiwa sampai 90o di kutub 90oU 90oS), lokalisir peningkatan hingga 3 derajat Celsius ditambah dengan sejumlah besar gas karbondioksida (CO2) di udara, merupakan pengaruh yang baik bagi hasil panen, karena menyediakan air yang cukup.
Namun hal apapun bila secara lokal melebihi 3 derajat adalah tidak baik untuk hasil panen, seperti yang dilaporkan oleh panel Fourth Assessment Report on the impacts of climate change, forum ilmiah yang terdiri dari para ilmuwan dari seluruh dunia.

Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan level gas karbondioksida sendiri, dapat mendukung produksi gandum dan beras namun manfaat apapun akan ditiadakan oleh tekanan yang disebabkan oleh temperatur tinggi, dan kekurangan air akibat perubahan dari pola curah hujan dan polusi.
Tanaman bernafas dengan CO2 untuk membuat gula dan senyawa kompleks lainnya untuk tumbuh. Tingkat karbondioksida dari bahan bakar fosil sedang meningkat dengan cepat dan saat ini merupakan level tertinggi dibanding tahun manapun sepanjang 650,000 tahun ini.
Tahun lalu, kenaikannya hampir mencapai 390 ppm dari sekitar 280 ppm di awal Revolusi Industri. Kecuali jika negara-negara secara drastis mengembalikan emisi karbon mereka, levelnya dapat mencapai 550 ppm di tahun 2050, seperti yang disampaikan panel tersebut, mendorong ke arah peningkatan yang tajam pada temperatur, terutama di garis lintang yang lebih tinggi (atau di daerah kutub). Trik untuk petani adalah dengan beradaptasi, dan para ilmuwan mengatakan tanaman pangan masa mendatang akan sangat berbeda.
“Kita akan melihat deretan ciri baru yang digabungkan ke dalam varietas yang akan ditanam di masa mendatang,” kata Ainsworth.
“Ini adalah sesuatu yang harus kita lakukan secepatnya sebab apapun yang kita harapkan untuk dikembangkan saat ini mungkin belum dapat terwujud di tahun 2018 dan kemudian iklim kemungkinan akan sangat berbeda.”
Di Philipina, International Rice Research Institute telah menyimpan sejarah panjang pengembangan varietas beras. Namun kecepatan perubahan iklim di masa datang merupakan masalah yang besar.

Dibutuhkan pembudidayaan
Masih banyak ketidakpastian pada prediksi iklim ketika perubahannya mencakup tingkat regional,” kata Reiner Wassmann dari IRRI. Namun jelas temperatur akan naik.
Mega tren lain yang kita lihat adalah bahwa kita akan mengalami perubahan iklim lebih ekstrim. Dalam beberapa tempat mungkin akan mengalami lebih banyak musim kering, namun di pihak lain mungkin akan terendam oleh banjir, di beberapa tempat mungkin akan mengalami keduanya,” lanjut Wassmann, koordinator Rice and Climate Change Consortium di IRRI.
“Hal tersebut sungguh suatu tantangan baru untuk mengembangkan sistem panen dan saya tidak ingin membatasi hanya pada pembudidayaan tanaman. Kita harus jelas bahwa tidak ada pemecahan masalah secara langsung dan bahwa jika kita mempercepat budidaya tanaman segalanya akan menjadi bagus. Pasti bukan itu?
“Kita juga harus meningkatkan manajemen panen dan teknik penyimpanan air yang dapat memberi gambaran dalam mengatasi musim kering.
Di daerah penghasil gandum utama di Australia, temperatur yang lebih tinggi akan mengancam hasil panen, tergantung pada lokasinya. Namun hal itu akan berubah pada saat terjadi hujan yang mungkin mempunyai dampak yang paling besar.
“Kenaikan hingga 2 derajat Celsius, dengan sendirinya dapat diatasi. Masalah yang lebih besar adalah apa yang akan terjadi bila terjadi hujan,” kata Mark Howden, seorang ilmuwan senior dari badan riset Australia CSIRO.
“Sekali kita meremehkan pengurangan 10-15 persen di curah hujan, kita akan mulai memasuki kondisi negatif untuk segalanya,” katanya.
“Di bawah keadaan tersebut kita mungkin akan melihat kemunduran besar pada produksi gandum bahkan ketika kita mempertimbangkan peningkatan teknologi yang telah kita kuasai dengan baik yang dapat kita gunakan,” kata Howden, pemimpin program adaptasi iklim CSIRO.
Jika dunia tetap memancarkan gas rumah kaca pada level seperti saat ini, model komputer menunjukkan bahwa Australia Selatan akan menjadi jauh lebih kering.
“Kita harus memikirkan jalan yang terbaik untuk tetap menyediakan makanan bagi dunia,” kata Howden, yang diundang untuk melakukan investasi lanjutan bagi riset oleh industri dan pemerintah.

“Kita sedang menghadapi kebutuhan untuk menggandakan produksi agrikultur di tahun 2050, maka ini bukan waktu kita untuk hidup mewah dengan mengurangi produk pertanian kita. Kita sedang berada pada treadmill (alat fitness untuk berlari) dan kita harus terus berlari semakin cepat.” (reuter)

Bagaimanakah sikap dari negara G-8 yang membuat target kerja sampai tahun 2050. Bagaimana pula sikap dan kondisi negara D-8 group termasuk Indonesia ?

Nah akhirnya,….. apa yang dapat kami simpulkan dari peristiwa global, nasional, lokal dan seterusnya sampai kepada petani lokal diareal kerja kami. Kita hanyalah sebuah sekrup terkecil dari sebuah mesin raksasa,……. Namun perlu walaupun sekedar menambah pengetahuan.